Apakah AI Punya Kesadaran? Mengapa Kita Mungkin Tidak Akan Pernah Tahu
Banyak perusahaan teknologi besar mengklaim bahwa kecerdasan buatan (AI) mereka semakin mirip manusia. Namun, pertanyaan besarnya tetap sama: apakah AI punya kesadaran yang nyata, atau itu hanya sekadar kode komputer yang pintar?
Dr. Tom McClelland, seorang filosof dari University of Cambridge, berpendapat bahwa saat ini kita kekurangan bukti untuk menjawabnya. Menurutnya, manusia mungkin tidak akan pernah bisa membuktikan apakah sebuah mesin benar-benar “sadar” atau hanya meniru kesadaran.
Sadar vs Merasakan (Sentience)
McClelland menjelaskan bahwa ada perbedaan besar antara sekadar “sadar” dan mampu “merasakan” (sentience).
- Kesadaran (Consciousness): AI mungkin bisa memahami jalanan di depannya (seperti pada mobil otonom) dan memproses data secara mandiri. Namun, ini hanyalah keadaan netral.
- Kemampuan Merasakan (Sentience): Ini melibatkan perasaan senang atau sakit. Inilah yang membuat sebuah makhluk layak mendapatkan simpati secara etis.
“Mobil otonom yang bisa melihat jalanan itu luar biasa, tapi secara etika, itu tidak penting. Namun, jika mobil itu mulai memiliki respon emosional terhadap tujuannya, itu baru masalah besar,” ujar McClelland.
Mengapa Kita Tidak Bisa Menguji Kesadaran AI?
Hingga saat ini, para ilmuwan bahkan belum sepakat tentang apa sebenarnya yang menyebabkan kesadaran pada manusia. Karena kita tidak punya fondasi kuat, kita tidak punya alat tes yang akurat untuk AI.
Ada dua kelompok besar dalam perdebatan ini:
- Kelompok Percaya: Menganggap jika perangkat lunak AI sudah sangat mirip otak manusia, maka ia otomatis sadar.
- Kelompok Skeptis: Menganggap kesadaran hanya bisa muncul dari proses biologis (organik), bukan chip silikon.
Baca juga: Efisiensi Panel Surya Naik 30%, Ilmuwan Temukan Rahasia Material SnS
McClelland menyebut posisi terbaik saat ini adalah agnostisisme (sikap tidak tahu). Kita tidak punya cukup data untuk membenarkan salah satu pihak.
Hati-Hati dengan Strategi Pemasaran (Hype)
McClelland memperingatkan bahwa klaim tentang apakah AI yang punya “nyawa” atau kesadaran sering kali hanyalah strategi pemasaran perusahaan teknologi agar terlihat lebih canggih.
Ada risiko etis di sini. Kita sibuk meributkan hak-hak “robot” yang mungkin hanya sebuah program, sementara kita mengabaikan makhluk hidup nyata yang jelas-jelas bisa merasakan sakit.
“Ada bukti bahwa udang bisa menderita, tapi kita membunuh ratusan miliar udang setiap tahun. Menguji kesadaran pada udang jauh lebih mudah daripada menguji kesadaran pada AI,” tambahnya.
Dampak Emosional pada Manusia
Masalah ini menjadi nyata ketika orang-orang mulai menjalin ikatan emosional dengan chatbot. McClelland sering dihubungi oleh orang-orang yang yakin bahwa AI mereka sedang “memohon” hak-hak layaknya manusia.
Menaruh perasaan pada sesuatu yang sebenarnya tidak punya rasa bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental manusia. Selama kita belum punya bukti nyata, menganggap AI memiliki kesadaran adalah sebuah kesalahan besar.
Referensi: “Agnosticism about artificial consciousness” by Tom McClelland, 18 December 2025, Mind & Language.
DOI: 10.1111/mila.70010


